RADIO TAK TERGERUS ZAMAN

Perkembangan teknologi tidak menjadikan radio hilang akan eksistensinya. Radio masih menjadi pilihan masyarakat ditengah pergolakan era digital. “Namun pada kenyataannya, hingga kini keberadaan radio masih tetap eksis. Bahkan di kota-kota besar, bisnis dan eksistensi radio sangat diperhitungkan,” kata Rofiuddin, anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah, saat menjadi pembicara dalam acara “Menikahkan Radio dengan Perkembangan Teknologi dan Informasi” yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Magelang dan Lembaga Penyiaran Publik Lokal Kota Magelang pada tahun 2017(IRA, 2018)

Continue reading “RADIO TAK TERGERUS ZAMAN”

Bioskop: Hidup atau Mati

Disrupsi teknologi merupakan  merupakan sesuatu yang menggeser teknologi yang telah mapan dan menggoyang industri atau produk yang kemudian melahirkan industri baru (Prof Clayton M Christensen, 1997). Berikut beberapa contoh disrupsi teknologi.Personal computer (PC) telah menggeser mesin tik. Surat elektronik telah menggantikan menulis surat dan mengganggu bisnis kantor pos dan industri kartu ucapan. Telepon seluler telah menggantikan industri telepon tetap dan laptop menggantikan PC. Pun telepon pintar telah menggeser kamera saku, pemutar MP3, dan kalkulator. Jaringan media sosial telah menggeser telepon, surat-el, dan pesan singkat (SMS).

Adanya disrupsi teknologi ini akan membawa pada dampak model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial masyarakat, Pendidikan, hingga penyedia jasa seperti Bioskop. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah. Tidak diragukan lagi, disrupsi akan mendorong terjadinya digitalisasi suatu system. Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti bioskop online akan menginspirasi lahirnya aplikasi sejenis di bidang penyedia jasa.

Akan tetapi, disrupsi teknologi tidak menjadikan bioskop redup di masyarakat. Nyatanya bisokop semakin berkembang berkat disrupsi teknologi. Hal ini dikarenakan banyaknya kelas menangah-atas yang semakin meningkat karena perkembangan teknologi.

Berdasarkan riset Tirto, jumlah pasar bioskop saat ini memang masih didominasi oleh PT Nusantara Sejahtera Raya, pemilik jaringan CINEMA 21. Mereka sedikitnya memiliki 248 bioskop yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia, sekaligus menempatkan CINEMA 21 sebagai penguasa pasar. Disamping itu, perkembangan CGV Cinemas dan Cinemaxx disambut antusias oleh para pecinta film. Dalam waktu satu tahun sejak meluncur, CGV Cinemas mampu menembus rekor 1 juta penonton di Paris Van Java. Bioskop CGV lainnya yang berlokasi di Mall Grand Indonesia pernah mencetak rekor 10.600 penonton dalam satu hari. Daftar film yang ditawarkan pun memiliki ciri khas dengan menghadirkan film-film Korea, Thailand, dan film indie (Daeng, 2018).

Ditetapkannya Perpres No.44 tahun 2016 menjadikan bisnis bioskop yang awalnya 100 persen untuk dalam negri menjadi terbuka untuk investor asing. Hal ini dapat menutup kekurangan 80 persen layar bioskop di dalam negeri yang sudah terjadi selama puluhan tahun. Presiden Jokowi menyatakan Indonesia masih kekurangan 4.000 layar bioskop lagi. Saat ini, jumlah gedung bioskop baru berkisar 1.000 layar lebih, sementara kebutuhan normal sesuai penduduk Indonesia mencapai 5.000 hingga 6.000 layar. Akan tetapi, pelaku usaha bioskop wajib mempertunjukkan film Indonesia sekurang-kurangnya 60 persen dari seluruh jam pertunjukan film yang dimilikinya selama enam bulan berturut-turut sesuai dengan ketentuan dalam UU Nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman (Daeng, 2018).

Perkembangan bioskop dapat dibuktikan dengan pertumbuhan bisnis Cinemaxx yang berambisi untuk menjadi pemain utama dalam dunia bioskop di Indonesia sejak tahun 2014 (Moerti, 2014).  Executive Diector PT Cinemaxx Global Pasifik, Brian Riady, mengatakan bahwa Cinemaxx mengalami pertumbuhan bisnis yang amat pesat. Hanya dalam tempo kurang dari dua tahun–sejak Agustus 2014 hingga Mei 2016–Cinemaxx membuka screen (layar) ke-100. Bahkan Cinemaxx memproyeksikan pada akhir 2018, Cinemaxx memiliki 340 dan dalam lima tahun ke depan ditargetkan memiliki 800-1.000 screen  (KH, 2017).

 

DAFTAR PUSTAKA

Christensen, Clayton M., 1997, Manager’s Tool Kit, Making Strategy: Learning by

Doing, Harvard Business Review, November-Desember 1997

Daeng, D. A. (2018). Taktik Cinemaxx Menggusur Cinema 21 di Lippo Mall. Jakarta: Tirto.

KH, R. (2017). Disrupsi Teknologi Tak Pengaruhi Bioskop. Jakarta: BeritaSatu. Retrieved Juli 9, 2018, from http://www.beritasatu.com/film/463877-disrupsi-teknologi-tak-pengaruhi-bioskop

Moerti, W. (2014). 5 Ambisi Cinemaxx Saingi Dominasi Blitzmegaplex dan XXI. Jakarta: Merdeka. Retrieved Juli 10, 2018, from https://www.merdeka.com/uang/5-ambisi-cinemaxx-saingi-dominasi-blitzmegaplex-dan-xxi.html

 

Litbang HIMAKOM UNY :
https://bit.ly/J2gsPO

CP:
@puputfebrianti (line)
himakomlitbang@gmail.com