DISKUSI MEMBAWA INFORMASI DAN SOLUSI

Senin, 7 Mei 2018 Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakrta kembali menyelenggarakan kegiatan Focus Grup Discussion (FGD). Kegiatan ini ditujukan kepada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta, khususnya Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY. Kegiatan ini merupakan FGD kedua setelah dilaksanakannya FGD perdana pada bulan April lalu.

Diskusi kali ini mengusung tema Representasi Kelas Sosial Dalam Media. Seperti halnya dengan FGD sebagaimana mestinya, acara dibuka dengan moderator dan dilanjutkan dengan pemantik yang akan memberikan sebuah pernyataan dan kasus yang bersangkutan. Diskusi ini dimoderatori oleh Puput Febrianti selaku penanggung jawab proker FGD. Tak hanya itu, kegiatan ini juga terdapat satu pemantik yaitu Yasfi Kunsuhufan Adi selaku Ketua HIMAKOM 2016. Seperti bisanya, diskusi dilanjutkan dengan saling memberikan argumen, opini, pandangan, dan analisis tiap mahasiswa yang hadir malam itu. Sekitar 23 mahasiswa hadir dalam FGD ini, yang terdiri dari 13 mahasiswa dari prodi Ilmu Komunikasi dan 13 mahasiswa dari berbagai prodi di lingkup Fakultas Ilmu Sosial UNY. Kegiatan ini bertujuan untuk memperoleh masukan atau informasi  mengenai permasalahan yang bersifat local dan spesifik. Penyelesaian masalah ini ditentukan oleh pihak lain setelah informasi berhasil dikumpulkan dan dianalisis.

Berbicara mengenai FGD, tidak melulu dengan jumlah masa yang banyak. Meskipun jumlah peserta diskusi lebih sedikit dari diskusi perdana bulan lalu, tetapi esensi dari diskusi ini setidaknya membuahkan sebuah hasil. Mahasiswa UNY dari seluruh jurusan yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dapat ikut andil dalam diskusi ini yang diadakan di Parkiran Unit Kegiatan Mahasiswa FIS UNY pada pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Dalam diskusi ini diberikan sebuah pernyataan mengenai kondisi media di Indonesia mengenai representasi yang mereka lakukan terhadap kelas sosial di Indonesia. “Representasi yang menciptakan sebuah efek media yang tidak saja mempengaruhi sikap seseorang, melainkan juga perilaku-perilaku hingga mempengaruhi siste sosial” Ungkap Yasfi. Dari pernyataan tersebut mulailah beberapa argument yang muncul dari peserta diskusi.

Seperti biasanya, awal diskusi dibuka dengan hangatnya. Tanda-tanda perdebatan belum muncul ke publik. Pembagian masyarakat kedalam kealas sosial tertentu menjadi sebuah fenomena nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Fenomena kelas sosial hadir dari berbagai pergeseran dalam masyarakat, termasuk proses industrialisasi. Pembagian masyarakat ke dalm kelas-kelas sosial tertentu juga ditampilkan dalam produk media massa, seperti, film, iklan,sineron, berita, infotaiment, dsb. Media merupakan salah satu channel yang mengemas suatu informasi dengan berbagai sandiwara dan kisah tertentu, sejenis drama dan sinetron dengan jumlah episode tunggal yang ditayangkan di televisi  nasional dan banyak diminati oleh masyarakat. Televisi sebagai media, yaitu alat atau sarana komunikasi untuk menyampaikan informasi kepada khalayak umum, mendukung penyebaran informasi secara luas di masyarakat. Konten yang ada pada televisi  pada mulanya termasuk dalam budaya massa karena disukai secara luas dan menjadi kebiasaan seluruh kalangan masyarakat untuk mengonsumsinya sehari-hari sebagai hiburan. Tetapi yang dapat bisa kita lihat sekarang, berabagai program yang ditayangan ditelevisi lebih merepresentasikan kalangan-kalangan tertentu saja. Apalagi, media akan merepresentasikan kalangan bawah dengan penggambaran yang sangat menyedihkan dan perlu diberi rasa iba.

Mengapa hal ini bisa terjadi ? Tentu saja banyak sekali kepentingan-kepengtingan media melakukan hal itu. Pertama, tentu saja kepentingan ekonomi. Media memanfaatkan channelnya sebagai ladang pencarian nafkah. Tetapi mereka sering kali tidak memeprhatikan dan tidak kurng etis dalam penyampaian dan penggambaran kelas sosial. Hal ini menyebabkan adanya stereotype tertentu pada kelas tertentu pula. Kedua, kepentingan politik. Para pemilik media khususnya, akan menggunakan medianya untuk mengembangan dan melegitimasi kekuasaannya untuk memengaruhi dan mendapatkan atensi lebih dari khalayak. Sehingga, apa yang menjadi tujuannya lambat laun akan tercapai. Ketiga, kepentingan sosial. Kepentingan sosial ini merujuk kepada adnaya sebuah kebiasaan masyarakat yang terus-menerus tertanam didalam kehidupannya. Seperti halnya, memandang rendah kaum perempuan. Hal ini juga merupakan salahs atu akibat adanya representasi, faming, dan narasi yang dilakuakan oleh media itu sendiri.

Lalu bagaimana untuk mengatasi masalah tersebut ? Sikap adil merupakan kunci untuk keluar dari masalah tersebut. Adil bukan berarti rata. Tetapi secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Adil dapat tercapai dengan adanya sebuah negosisasi. Bagaimana setiap kelas sosial ini mempunyai ruang untuk dapat mengekspresiakan di dalam. Seperti contohnya program Waktu Indonesia Timur (WIT) dan Program Si Bolang. Dua program ini menggambarkan bahwa tidak semua yang dapat ditayangkan di media itu diskrimiansi pada kelas tertentu. Sudah sepatutnya, media sebagai repersentasi suatu bangsa dapat menggambarkan suatu bangsa terntu dengan baik. Sehingga, hal ini tidak menjadikan sebuah ketimpangan, misrepresentasi, dan menciptakan suatu stereotype negatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *