Focus Group Discussion #2 “Latah, Serakah Sesakkan Ruang Kreativitas”

 

Rabu, 9 Oktober 2019 Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi 2019 telah melaksanakan Focus Group Discussion yang kedua dalam periode ini. FGD dilaksanakan di parkiran Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa. Acara ini dihadiri oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY dari berbagai angkatan dengan Novianto Yudha Laksana selaku salah satu dosen Ilmu Komunikasi sebagai pemantik.

Yogyakarta, 10 Oktober 2019 – Dewasa ini situs berbagi video seperti Youtube semakin menjadi perbincangan publik. Hal yang menjadi perbincangan publik yaitu mengenai konten dan juga dalang di balik konten yang disajikan. Video yang menjadi trending di Youtube terkadang berpengaruh pada publik yang menyaksikannya. Sering kali para youtuber dikambing hitamkan atas konten yang diunggahnya tersebut. Maka dari itu, Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menggelar diskusi atau yang biasa disebut Focus Group Discussion (FGD) yang kedua pada Rabu, 9 Oktober 2019 dengan tema “Latah, Serakah Sesakkan Ruang Kreativitas”. Tema yang diangkat dalam FGD tersebut membahas mengenai nasib youtuber akibat dari pembuatan konten yang hanya mengikuti trend tanpa memperhatikan kualitas isi konten yang dibuat. Apakah karena dengan mengikuti trend saja akan memengaruhi kekreativitasan mereka dalam berkarya ataukah tidak. Perlu diketahui juga bahwa tema yang diangkat dalam FGD ini akan menjadi sebuah isu untuk menyambut tema Semnas November nanti.

FGD dengan Novianto Yudha Laksana sebagai pemantik memulai dengan membahas pasal cita-cita anak zaman sekarang. Cita-cita mereka sangatlah berbeda dengan anak pada zaman dulu yang hanya sebatas menjadi guru, polisi, dokter, dll. Cita-cita anak zaman sekarang sudah lebih bervariasi, salah satunya yaitu ingin menjadi youtuber. Memang tidak dapat dipungkiri lagi bahwa telah banyak sekali youtuber di Indonesia yang terkenal dan dapat meraih kesuksesan dengan bekerja sebagai youtuber. Konten yang mereka buat terkadang menjadi trending di Youtube dan otomatis dapat dilihat oleh siapa saja dan kapan saja. Terlebih lagi dalam mengakses Youtube siapapun bisa mengaksesnya dengan mudahnya mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Terkadang konten yang trending di Youtube dapat menjadi inspirasi youtuber lain untuk membuat konten yang hitungannya serupa dengan video yang trending tersebut. Hal inilah yang menjadi permasalahannya, banyak di antara para youtuber yang hanya mengikuti trend ketimbang mementingkan kualitas konten. Hal ini juga kembali pada masyarakat yang menyaksikan video tersebut. Faktanya di Indonesia sendiri banyak pengguna Youtube yang memang suka dengan konten-konten yang sedang trending tersebut. Padahal konten-konten tersebut kualitasnya sangatlah buruk. Akan tetapi, dari sisi youtuber sendiri banyak juga dari mereka yang sebenarnya hanya ingin panjat sosial dengan membuat suatu konten tertentu yang sedang trending karena selain hal tersebut dapat dijadikan sebagai peluang untuk menambah viewers video. Ada yang memang mendapatkan banyak viewers, tetapi ada juga yang hanya menjadi “sampah”.

“Menjadi youtuber sendiri sebenarnya tidak mudah. Banyak yang ingin menjadi youtuber hanya karena sekedar mencari uang saja. Padahal Youtube memiliki banyak sekali manfaatnya salah satunya yaitu menyalurkan kreativitasan kita semua.” Kata Novianto Yudha Laksana sebagai pemantik.

FGD yang dilaksanaan di Parkiran Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) FIS UNY yang dihadiri 25 mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY mendapatkan jawaban, jika kita menjadi seorang youtuber, apalagi kita sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, janganlah membuat konten yang hanya mengikuti pasar, tetapi juga harus memperhatikan kualitas isi konten yang akan kita bagikan, agar kita dapat mengembangkan kreativitas kita bukan hanya terpaku pada konten-konten yang sedang trending. Di sisi lain jika kita hanya sebagai konsumen Youtube, kalau bisa seperti kata-kata yang dipopulerkan oleh Plastic Jesus, seorang seniman jalanan asal Los Angels “Stop making stupid people famous” yang dapat diartikan bahwa kita janganlah membuat orang bodoh (youtuber yang membuat konten tidak berkualitas) menjadi terkenal. Dengan tidak melihat konten yang dibuatnya bukan hanya mewujudkan kalimat dari Plastic Jesus tadi, juga dapat membatasi diri kita dari konten-konten yang dirasa kurang atau bahkan tidak berkualitas.

Penulis: Bagus Dwi Wijanarko
Editor: Ratna Swastika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *