Menelisik Peluang dan Tantangan Jurnalistik Masa Kini Himakom Melalui Divisi Litbang Mengada Focus Group Disscusion

Yogyakarta, 8 November 2020 – Divisi Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi telah melaksanakan Focus Group Discussion#2 (FGD) dengan mengangkat tema “Menelisik Jurnalistik Masa Kini”. Kegiatan FGD ini merupakan kegiatan diskusi eksternal yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis kelompok sasaran FGD dengan menuangkannya dalam sebuah forum diskusi.

 

FGD#2 kali ini dilaksanakan secara virtual dan terbuka untuk umum dengan antusias peserta lebih banyak jika dibandingkan dengan FGD#1 pada bulan Agustus lalu. Peserta FGD#2 ini berasal dari beberapa daerah dan kalangan. Mulai dari siswa sekolah, mahasiswa UNY, hingga mahasiswa luar UNY. Pelaksanaan FGD#2 berdurasi 90 menit melalui platform Google Meet. Dengan isu yang diangkat kali ini lebih dalam mengulik mengenai etika seorang jurnalis. Isu tersebut dipilih mengingat semakin banyaknya berita hoax yang tersebar di era pandemi. Pemantik dalam diskusi ini ialah Gilang Jiwana Adikara, M. A. selaku dosen Ilmu Komunikasi UNY, di mana sebelum menjadi dosen beliau berprofesi sebagai jurnalis.

Beliau memaparkan mengenai peluang dan tantangan dalam menjadi jurnalis online. Diskusi bersama Gilang Jiwana Adikara dipandu oleh Hery Setiawan. Ia merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNY yang juga sedang menggeluti dunia jurnalistik.

Membahas jurnalistik pastinya tidak terlepas dari teknologi. Dahulu, masyarakat hanya mengandalkan media cetak dan elektronik, tetapi sekarang sudah mulai mengandalkan media online. Gilang Jiwana Adikara mengatakan bahwa institusi media massa sebagai institusi bisnis jika dilihat dari segi bisnis itu sah-sah saja, tetapi jika dilihat dari tugas sosial media massa, hal tersebut menimbulkan masalah. Dengan banyaknya kemudahan menyebabkan setiap orang bisa membuat media baru sendiri. Dalam hal ini yang menjadi masalah ialah ketika seseorang pembuat media baru tersebut tidak membuktikan kebenaran berita yang nantinya justru akan menciptakan berita palsu. Apalagi mengingat bahwa citizen jurnalistik itu belum ada peraturannya. Hal ini akan membuat pembuat media baru tersebut tidak memerhatikan akurasi dalam memproduksi sebuah berita.

Lebih lanjut Gilang Jiwana Adikara mengatakan bahwa wartawan profesional ialah wartawan yang sudah terdaftar dan mempunyai lisensi dari dewan pers yang sudah ada dalam jaringan. Hal ini karena semua orang saat ini dapat dengan mudah menjadi wartawan, tetapi tidak semua bisa disebut dengan wartawan profesional. Sedangkan kode etik jurnalistik hanya mengikat pada wartawan profesional yang berada di bawah naungan dewan pers. Dewan pers sendiri merupakan pengawas independen yang bertugas mengawasi setiap media massa yang ada di Indonesia. Dewan pers berdiri bukan di bawah naungan pemerintah dan anggotanya ialah orang-orang pilihan. Kode etik jurnalistik pada umumnya ada sebelas, namun setiap instansi mempunyai kode etik tersendiri. Walapun berbeda, tetapi prinsipnya sama yaitu harus independen, harus melindungi kepentingan, dan mengacu pada kebenaran.

Dalam diskusi kali ini yang dapat disimpulkan ialah bahwa seorang jurnalis juga berhak untuk keliru. Akan tetapi kekeliruan tersebut harus dipertanggungjawabkan dengan permintaan maaf kepada khalayak. Harapannya media online yang tersedia sekarang dapat membawa dampak positif kepada seluruh lapisan masyarakat. Pada akhir diskusi, Hery Setiawan memaparkan bahwa yang membedakan seorang jurnalis dengan perofesi lain ialah verifikasi. Verifikasi merupakan kunci dari jurnalis karena verifikasi perlu dilakukan setiap jurnalis memproduksi sebuah berita.

 

Contact Person : Litbang Himakom – 0895385178151

Editor : Daffa M

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *