PROGRAM TELEVISI INDONESIA KURANG MENDIDIK

Angka penetrasi media oleh televisi masih menjadi yang tertinggi di Indonesia. Hal ini dibuktikan berdasarkan survei Nielsen Consumer Media View yang dilakukan di 11 kota di Indonesia. Angka yang didapatkan pun sebesar 96% dengan kriteria orang usia 10 tahun keatas dengan jumlah lebih dari 17000 orang yang tersebar di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Palembang, Makassar, dan Banjarmasin (Nielsen Consumer and Media View, 2017). Berdasarkan hasil riset Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), hanya 0,7 persen tayangan televisi yang mendidik (MetroTV News, 2017).

Yuliandre, ketua KPI Pusat, menjelaskan bahwa konten penyiaran televisi Indonesia masih mengandalkan infotaintment, talkshow, reality show, dan sebagainya yang masih mengandung unsur tidak mendidik. Unsur tidak mendidik ini berupa kekerasan, mistisme, eksploitasi tubuh perempuan, dan lain-lain. Pengawasan dilakukan KPI tehadap 15 stasiun TV berjaring, 2 provider TV berlangganan, dan 11 radio. KPI Pusat memantau 100% dari total tayangan 15 stasiun televisi berjaringan, yang bersiaran secara nasional. 50% stasiun televisi berlangganan dan 25% radio berjaringan. Stasiun TV berjaringan dipantau 24 jam, televisi berlangganan dipantau 12 jam (07.00-19.00) dan radio dipantau 6 jam (07.00-13.00) (IISIP, 2017).

KPI bekerja sama dengan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dan 12 perguruan tinggi di Indonesia untuk meneliti standar kualitas program siaran televisi. Survei kualitas berita dilakukan dalam dua periode, yakni periode pertama pada Januari-Mei 2017 dan periode kedua pada Juni-Oktober 2017 (detikNews, 2017).

Survei yang dilakukan menilik berdasarkan beberapa indeks penilaian, yaitu keberagaman, pengawasan, faktualitas, akurasi, keadilan, keadilan, kepentingan publik, tidak berpihak, dan relevansi. Program infotainment mendapat nilai standar di bawah kualitas KPI, yakni 2.51. Selain itu, program yang dinilai memiliki standar kualitas rendah lainnya meliputi program anak-anak dengan nilai 2.98, variety show 2.61, dan sinetron 2.55. Sedangkan untuk program dengan yang memenuhi standar kualitas meliputi beberapa program, seperti program berita (3.0), talkshow (3.04), program religi (3.11), dan program wisata budaya (3.25) (detikNews, 2017).

Banyaknya unsur negatif dalam persebaran arus informasi, akan berdampak buruk pada masyarakat. Sebagaimana yang dilasir oleh Liputan6 (20/5/2018), Dekan FISIP UPN Veteran Jakarta, Anter Venus, mengatakan bahwa televisi berpengaruh dalam pola pikir seseorang hingga masyarakat. Maka dari itu, literasi media perlu dilakukan. Literasi media bertujuan untuk menambah kemampuan dan pengetahuan masyarakat. Jika tidak ada literasi media, masyarakat akan terbawa pengaruh buruk televisi.

Sumber:

detikNews. (2017). Survei Kualitas Siaran TV, KPI: Program Infotainment Paling Rendah. Jakarta: news.detik.com. Dipetik Juni 19, 2018, dari https://news.detik.com/berita/d-3780733/survei-kualitas-siaran-tv-kpi-program-infotainment-paling-rendah

IISIP. (2017). Peran KPI dalam Meningkatkan Kualitas Siaran Televisi. Jakarta: iisip.ac.id. Dipetik Juni 18, 2018, dari http://iisip.ac.id/content/peran-kpi-dalam-meningkatkan-kualitas-siaran-televisi

Liputan6. (2018). Ketua KPI Sarankan Masyarakat Kritis Terhadap Siaran TV. Jakarta: Liputan6. Dipetik Juni 18, 2018, dari https://www.liputan6.com/news/read/3532322/ketua-kpi-sarankan-masyarakat-kritis-terhadap-siaran-tv

MetroTV News. (2017). Hanya 0,7 Persen Program Televisi yang Mendidik. Jakarta: news.metrotvnews.com. Dipetik Juni 18 Juni, 2018, dari http://news.metrotvnews.com/read/2017/07/28/736176/hanya-0-7-persen-program-televisi-yang-mendidik

Nielsen Consumer and Media View. (2017). Tren Baru di Kalangan Pengguna Internet di Indonesia. Jakarta: Nielsen.com. Dipetik Juni 18 , 2018, dari http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2017/TREN-BARU-DI-KALANGAN-PENGGUNA-INTERNET-DI-INDONESIA.html

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *